Suara Kaum IPS

Semua silahkan memandang miring kami, 
tetapi sekali lagi, yang membuktikan adalah hasil akhir!!!

Selasa, 25 Maret 2008

Pendidikan Nan Komersial

...berjuta anak bangsa tak mampu terus sekolah
karena biayanya saja sudah semakin menggila
hey hey hey pendidikan!!
bukanlah perusahaan yang orientasinya uang
hey hey hey pendidikan!!
bukanlah formalitas yang penuh dengan kekosongan....


Kata-kata diatas adalah potongan lirik lagu yang berjudul "Pendidikan Gratis" dari Marjinal. Kita sebagai pelajar tentu tidak asing lagi dengan kata pendidikan, sebuah tempat yang ditujukan bagi semua orang yang menuntut ilmu dengan namun prosedur dan mekanisme yang ada. Tempat bagi semua orang yang ada untuk mencapai segala tujuan dalam hidupnya memperoleh apa yang ingin diketahui dan didalami.
Namun kenyataan yang ada saat ini, rasanya sulit melihat smua teori diatas. pendidikan semakin sulit dijangkau terutama oleh kaum bawah yang terjepit oleh himpitan ekonomi. Lembaga pendidikan telah berubah menjadi sebuah mesin pencetak uang yang tidak lebih hanya menguntungkan kaum kelas atas (kapitalis) dan tentu saja akan merampas hak si miskin untuk menjadi pandai, pintar, dan dipandang berpendidikan/terhormat.
Sekolah dengan smkin mahal. Biayanya semakin menggila dan nyaris tidak dapat dijangkau bagi mereka yang serba kekurangan namun mereka (para elit, kepala sekolah, dan semua pejabat yang berwenang) berdalih bahwa hal itu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan (ah Bullshit!!) kalaulah itu untuk meningkatkan mutu pendidikan kenapa para elit tidak pernah mengucurkan sedikit saja dari sakunya, bukankah uang mereka dapat dikatakan lebih dari melimpah dan kemana saja anggaran yang dialokasikan.
Lagi pula yang seharusnya ditingkatkan adalah SDM-nya, bukan biayanya dan kalau perlu membuang semua orang yang bermental bejat seperti mereka. Pembangunan fisik hanyalah lipstik belaka hanya sebagai pantes2an agar alibi mereka semakin sempurna dan terus memperlakukan wali murid sebagai sapi perah yang menghasilkan uang terus menerus atau paling tidak sebagai upaya untuk mengembalikan 'modal' yang mereka 'investasikan' untuk mencapai posisi bergengsi mereka saat ini. Bermodalkan uang dan pasang muka manis kepada para pengawas yang datang tidak lebih hanya untuk mencari muka.
Misalkan saja siswa 'dipaksa' untuk membeli buku, lks di koperasi sekolah yang bisa menguntungkan mereka dan
pihak penerbit, bagi penerbit mereka tidak perlu khawatir buku mereka tidak laku karena penerbit tsb sudah mendapatkan pembeli tetap. contoh lain adalah kegiatan pensi, kalender dll yang dilakukan sekolah siswanya suka atau tidak mereka dipaksa urunan untuk mendanainya dan profitnya kita tahu sendiri hanya mereka yang menelannya.
Tidak jarang para elit kemudian bersikap yang arogan, dan seperti diktator pada umumnya mereka tidak segan menggunakan segala cara untuk menutup mulut orang2 yang mengetahui tabiat binatang mereka mulai dari mengasingkan, membuang bahkan pernah terjadi mereka membredel majalah sekolah mereka sendiri karena pemberitaan yang dianggap 'membahayakan' posisi dan kelangsungan hidupnya (mirip di China dan jaman ORBA). dan itu pun mendapat dukungan dari guru2 yang loyal dan penjilat.
Koruptor tetaplah koruptor dimana pun tempat mereka berada. cuman tekniknya doank yang beda. cobalah mulai saat ini kita berpikir kembali bukan hanya menjalani apa adanya karena dari semua pengalaman yang ada kita akan terus ditekan kecuali kita berani melawan.

Tidak ada komentar: