Suara Kaum IPS

Semua silahkan memandang miring kami, 
tetapi sekali lagi, yang membuktikan adalah hasil akhir!!!

Rabu, 02 April 2008

Menyikapi Film 'Fitna'


Ada dua hal yang ingin kita sampaikan terkait dengan beredarnya film Fitna. Film itu disutradarai dan diproduksi oleh Geert Wilders, pemimpin partai sayap kanan Belanda, Partai untuk Kebebasan. Dalam film berdurasi 15 menit tersebut, Wilders yang juga anggota parlemen Belanda (Tweede Kamer) dengan blak-blakan menghina, menjelekkan, merendahkan, dan melecehkan agama Islam.

Bukan hanya menghina Nabi Muhammad SAW sebagaimana dilakukan koran Denmark, Jyllands-Posten, beberapa waktu lalu. Namun, Wilders juga merendahkan Alquran dan Islam serendah-rendahnya sepanjang film tersebut. Mari kita simak pendapat Wilders tentang Alquran. Katanya, Alquran merupakan kitab yang fasis dan Islam tidak cocok dengan demokrasi. Alquran tak ubahnya Mein Kampf-nya Hitler yang menghasut dan melakukan kebencian dan pembunuhan.

Film itu kemudian ia tutup dengan sebuah kesimpulan: "Stop Islamisasi dan Bela Kebebasan Kita." Dia lalu menasihati umat Islam untuk menyobek separuh Alquran bila ingin hidup di Belanda. Dengan begitu sungguh lengkaplah penghinaan Wilders terhadap Islam. Karena, Alquran dan Sunnah/Hadis (perkataan, perbuatan, dan sikap Nabi Muhammad) merupakan dua sumber utama umat Islam.

Dua hal yang ingin kita sampaikan itu adalah, pertama tentang kebebasan. Bagi Wilders, kebebasan jelas diartikan sebagai bebas sebebas-bebasnya. Sak karepe dewe, kata orang Jawa. Padahal, tidak ada orang hidup di dunia ini yang bisa dan boleh hidup sebebas-bebasnya, termasuk di negeri Belanda sendiri. Bahkan di negeri ini undang-undang serba membatasi kebebasan warganya.

Sebut yang paling sederhana sekalipun. Sebagai misal, di sana seorang warga tidak diperkenankan membangun dan bahkan mengecat rumahnya sekehendak hatinya. Ia harus mendapatkan izin dari pemerintah. Dan, izin baru diberikan manakala tidak mengganggu pemandangan/estetika umum.

Apalagi sekarang ini Wilders menghina sebuah keyakinan umat beragama. Undang-undang/hukum di Belanda menyatakan, barang siapa yang mengeluarkan kata-kata bermuatan kebencian di depan publik, baik secara verbal, tertulis, maupun gambar yang menyerang masyarakat, agama, keyakinan, dan orientasi seksual adalah sebuah palanggaran.

Hal ini perlu kita garisbawahi karena di negeri kita sendiri terdiri dari masyarakat yang majemuk. Masyarakat kita berbeda-beda agama, keyakinan, etnis, dan perbedaan lainnya. Kita sangat menjunjung asas kebebasan namun kebebasan itu tidak sebebas-bebasnya. Tetap harus ada batasnya. Apa jadinya bila setiap kita bisa berbuat dan menyatakan apa saja semau gue. Pasti negeri ini akan kacau.

Kedua adalah bagaimana kita harus menyikapi film Fitna tersebut. Marah, itu pasti. Geram, itu jelas. Bagi kita, Alquran dan Sunnah/Hadis (Nabi Muhammad SAW) adalah suci, pedoman utama dalam hidup. Perintah Alquran dan Sunnah harus kita ikuti. Larangan dari keduanya harus kita tinggalkan.

Namun, kemarahan dan kegeraman kita harus tetap terukur. Jangan sampai kontra-produktif, apalagi merusak/anarkis. Protes dan berunjuk rasa boleh, tapi harus tetap santun dan tidak mengganggu ketertiban umum. Umat Islam yang diciptakan sebagai sebaik-baik umat harus memberi contoh dan teladan bagaimana menegakkan kebaikan (takmuruuna bil makruf) dan mencegah kemungkaran (tanhauna 'anil munkar) dengan cara-cara yang baik.

Akan sangat baik bila semua pihak pemerintah, DPR, umat beragama, dan berbagai ormas dan lembaga lainnya bersatu padu mengeluarkan petisi yang mengecam film itu, dan berbagai hal lainnya yang menghina keyakinan umat beragama. Juga menempuh jalur hukum (internasional) yang dimungkinkan. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, juga akan sangat baik bila mengajak negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk melakukan hal yang sama. Sekali lagi, jangan sampai tindakan kita kontra-produktif, apalagi merusak.

Selasa, 25 Maret 2008

Pendidikan Nan Komersial

...berjuta anak bangsa tak mampu terus sekolah
karena biayanya saja sudah semakin menggila
hey hey hey pendidikan!!
bukanlah perusahaan yang orientasinya uang
hey hey hey pendidikan!!
bukanlah formalitas yang penuh dengan kekosongan....


Kata-kata diatas adalah potongan lirik lagu yang berjudul "Pendidikan Gratis" dari Marjinal. Kita sebagai pelajar tentu tidak asing lagi dengan kata pendidikan, sebuah tempat yang ditujukan bagi semua orang yang menuntut ilmu dengan namun prosedur dan mekanisme yang ada. Tempat bagi semua orang yang ada untuk mencapai segala tujuan dalam hidupnya memperoleh apa yang ingin diketahui dan didalami.
Namun kenyataan yang ada saat ini, rasanya sulit melihat smua teori diatas. pendidikan semakin sulit dijangkau terutama oleh kaum bawah yang terjepit oleh himpitan ekonomi. Lembaga pendidikan telah berubah menjadi sebuah mesin pencetak uang yang tidak lebih hanya menguntungkan kaum kelas atas (kapitalis) dan tentu saja akan merampas hak si miskin untuk menjadi pandai, pintar, dan dipandang berpendidikan/terhormat.
Sekolah dengan smkin mahal. Biayanya semakin menggila dan nyaris tidak dapat dijangkau bagi mereka yang serba kekurangan namun mereka (para elit, kepala sekolah, dan semua pejabat yang berwenang) berdalih bahwa hal itu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan (ah Bullshit!!) kalaulah itu untuk meningkatkan mutu pendidikan kenapa para elit tidak pernah mengucurkan sedikit saja dari sakunya, bukankah uang mereka dapat dikatakan lebih dari melimpah dan kemana saja anggaran yang dialokasikan.
Lagi pula yang seharusnya ditingkatkan adalah SDM-nya, bukan biayanya dan kalau perlu membuang semua orang yang bermental bejat seperti mereka. Pembangunan fisik hanyalah lipstik belaka hanya sebagai pantes2an agar alibi mereka semakin sempurna dan terus memperlakukan wali murid sebagai sapi perah yang menghasilkan uang terus menerus atau paling tidak sebagai upaya untuk mengembalikan 'modal' yang mereka 'investasikan' untuk mencapai posisi bergengsi mereka saat ini. Bermodalkan uang dan pasang muka manis kepada para pengawas yang datang tidak lebih hanya untuk mencari muka.
Misalkan saja siswa 'dipaksa' untuk membeli buku, lks di koperasi sekolah yang bisa menguntungkan mereka dan
pihak penerbit, bagi penerbit mereka tidak perlu khawatir buku mereka tidak laku karena penerbit tsb sudah mendapatkan pembeli tetap. contoh lain adalah kegiatan pensi, kalender dll yang dilakukan sekolah siswanya suka atau tidak mereka dipaksa urunan untuk mendanainya dan profitnya kita tahu sendiri hanya mereka yang menelannya.
Tidak jarang para elit kemudian bersikap yang arogan, dan seperti diktator pada umumnya mereka tidak segan menggunakan segala cara untuk menutup mulut orang2 yang mengetahui tabiat binatang mereka mulai dari mengasingkan, membuang bahkan pernah terjadi mereka membredel majalah sekolah mereka sendiri karena pemberitaan yang dianggap 'membahayakan' posisi dan kelangsungan hidupnya (mirip di China dan jaman ORBA). dan itu pun mendapat dukungan dari guru2 yang loyal dan penjilat.
Koruptor tetaplah koruptor dimana pun tempat mereka berada. cuman tekniknya doank yang beda. cobalah mulai saat ini kita berpikir kembali bukan hanya menjalani apa adanya karena dari semua pengalaman yang ada kita akan terus ditekan kecuali kita berani melawan.